Translate

Selasa, 22 Januari 2013

Novel Ilana Tan


  1. Summer In Seoul (Oktober 2006) 
  2. Autumn In Paris (Juli 2007)
  3. Winter In Tokyo (Agustus 2008)
  4. Spring In London (Februari 2010)
Tapi, untuk membaca itu semua tidak diperlukan urutan layaknya novel bersekuel. Dibaca dengan urutan random pun tidak masalah karena cerita dari novel satu dengan yang lainnya tidak saling bersambung. Keunikan dari empat novel ini adalah tokoh-tokohnya saling memiliki keterkaitan, semacam film Love Actually kalau tidak salah. Hehehe... Si ini di buku ini ternyata kenal dengan si itu di buku itu, atau si anu ternyata adalah saudara dari si itu di buku yang itu, ya semacam itulah.



Summer In Seoul
Judul: Summer In Seoul
Pengarang: Ilana Tan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 51.000,-
Halaman: 280 halaman
Novel ini bercerita tentang seorang gadis blasteran Indonesia-Korea bernama Han Soon-Hee (nama Indonesia-nya adalah Sandy) yang kuliah sambil bekerja pada seorang perancang busana terkenal di Korea. Kemudian secara tidak sengaja ponsel Sandy tertukar dengan ponsel penyanyi terkenal Korea bernama Jung Tae-Woo. Setelah mereka bertemu untuk mengembalikan ponsel masing-masing, Jung Tae-Woo meminta bantuan Sandy untuk berfoto dengannya. Jung Tae-Woo meminta Sandy berpura-pura menjadi pacarnya untuk meredakan gosip tidak mengenakkan yang beredar mengenai Jung Tae-Woo. Sejak saat itu mereka berdua sering bertemu. Pada awalnya, Sandy terheran-heran mengapa banyak orang menyukai Jung Tae-Woo. Jung Tae-Woo memang pandai bernyanyi dan tampan. Tetapi, Sandy merasa tidak terkesan dengan semua itu. Seiring berjalannya waktu, perubahan perasaan Sandy terhadap Jung Tae-Woo mulai terasa. Kemudian, Jung Tae-Woo mengetahui sesuatu mengenai Sandy yang berhubungan dengan trauma masa lalunya.
Cerita yang terjadi di novel ini sangat klise menurut saya. Tapi, tetap asyik dijadikan bacaan ringan di waktu luang. Bukan tipe novel cinta yang berat. Saya beri tiga bintang dari lima bintang untuk Summer In Seoul.

Autumn In Paris
Judul: Autumn In Paris
Pengarang: Ilana Tan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 38.500,-
Halaman: 272 halaman
Novel ini bercerita mengenai seorang wanita cantik dan cerdas blasteran Indonesia-Perancis bernama Tara Dupont yang sangat menyukai musim gugur di Paris. Tara tinggal di Paris bersama ayah yang sangat mencintainya. Tara berprofesi sebagai penyiar radio terkenal di Paris. Tara dikelilingi oleh sahabat-sahabat yang menyayanginya. Salah satu di antaranya adalah Sebastien Giraudeau. Tara menyukai Sebastien, tapi tidak berani untuk menyatakan perasaannya. Suatu hari Tara bertemu dengan seorang teman Sebastien dari Jepang bernama Tatsuya Fujisawa. Sebenarnya Tatsuya sangat membenci musim gugur dan Paris karena kenangan masa lalunya. Tetapi, dia harus pergi menuju Paris untuk membereskan masalah di masa lalunya. Lambat laun Tatsuya mulai menyukai musim gugur dan Paris karena kehadiran Tara, wanita cerdas dan ceria yang selalu berhasil membuat senyumnya mengembang. Lambat laun, Tara pun mengalihkan pandangan dari Sebastien menuju Tatsuya, laki-laki yang selalu membangkitkan rasa penasarannya. Ketika mereka berdua yakin dengan perasaan masing-masing, kenyataan yang pahit pun terkuak. Jelas sudah mereka berdua tidak dapat berlari dari masa lalu yang mengejar mereka.
Cerita di novel ini berhasil menjadikannya novel paling favorit di antara keempatnya bagi saya. Novel ini mempunyai ide cerita yang paling berbeda menurut saya. Rasa bahagia dan rasa sakit di dalam cerita mampu saya rasakan dengan sangat. Autumn In Paris berhasil membuat saya berkaca-kaca. Ending-nya pun sangat tidak biasa. Lima bintang penuh untuk Autumn In Paris.

Winter In Tokyo

Judul: Winter In Tokyo
Pengarang: Ilana Tan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 40.000,-
Halaman: 313 halaman
Novel ini bercerita mengenai kehidupan seorang gadis blasteran Indonesia-Jepang bernama Ishida Keiko yang tinggal di Jepang dan berprofesi sebagai pustakawan. Suatu hari, Keiko mendapatkan tetangga baru di apartemen yang dia tinggali. Tetangga tersebut merupakan orang Jepang yang telah lama tinggal di New York bernama Nishimura Kazuto. Kazuto memutuskan pindah ke Tokyo untuk mencari suasana baru dan menenangkan diri dari New York. Keiko dan Kazuto pun terbiasa bertemu dan makan bersama setelah jam kerja Keiko berakhir. Kazuto yang seorang fotografer mulai tertarik kepada Keiko dan menjadikannya sebagai salah satu objek favoritnya. Perjuangan Kazuto untuk mendapatkan Keiko terasa lebih berat ketika Keiko tidak bisa melupakan sosok cinta pertamanya yang merupakan sahabat Kazuto sendiri. Keadaan semakin sulit ketika salah satu dari mereka kehilangan ingatan selama satu bulan terakhir. Termasuk kehilangan ingatan mengenai janji yang telah terucap kepada orang yang telah dikenalnya selama satu bulan terakhir.
Cerita di novel ini memang ringan dan mudah ditebak jalan ceritanya. Tapi, entah kenapa saya menyukainya. Ceritanya begitu ringan dan mampu membawa saya sebagai pembaca masuk ke dalam emosi yang terbangun pada cerita ini. Saya suka penokohan Keiko dan Kazuto. Keiko yang merupakan gadis manis, lucu, dan periang. Kazuto merupakan pria yang romantis, gentle, dan menghibur. Winter In Tokyo merupakan novel yang menghibur, jadi saya beri empat bintang dari lima bintang.

Spring In London

Judul: Spring In London
Pengarang: Ilana Tan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 42.000,-
Halaman: 238 halaman
Novel ini bercerita mengenai gadis blasteran Indonesia-Jepang bernama Naomi Ishida yang berprofesi sebagai model di London, Inggris. Suatu hari, Naomi mendapatkan tawaran pekerjaan untuk menjadi model video klip salah satu penyanyi terkenal Korea. Naomi berpasangan dengan Danny Jo (model terkenal Korea) dalam video ini. Danny merupakan sosok pria ramah dan baik kepada siapa saja yang ditemuinya. Tetapi, Danny heran ketika Naomi justru selalu menghindar dan terlihat ketakutan ketika berada di dekatnya. Danny penasaran apa yang telah diperbuatnya sehingga Naomi berperilaku seperti itu kepadanya. Fakta yang terkuak membuat Naomi dan Danny membutuhkan waktu untuk "menyembuhkan diri" masing-masing. Fakta tersebut datang justru di saat keduanya sudah saling merasa nyaman dengan masing-masing.
Sama seperti Summer In Seoul, cerita di novel ini sangat klise, tapi tetap jadi bacaan asyik dan ringan di waktu luang. Saya beri tiga bintang dari lima bintang untuk Spring In London.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar